π₯π« REVIEW HAVOC (2025) – Aksi Brutal yang Terjerat Konspirasi
π SINOPSIS LENGKAP
Havoc mengisahkan Patrick Walker (Tom Hardy), seorang detektif pembunuhan yang muram dan terasing dari keluarganya[citation:2]. Hidupnya yang sudah kacau menjadi semakin ruwet ketika sebuah pencurian besar-besaran kokain yang tersembunyi dalam mesin cuci oleh sekelompok pencuriβtermasuk Charlie Beaumont (Justin Cornwell), putra calon walikotaβberujung pada pembantaian di markas triad lokal[citation:2].
Atas perintah bos sekaligus penyandang dananya, Lawrence Beaumont (Forest Whitaker), Walker dipaksa mencari Charlie untuk melindungi kampanye politik Beaumont[citation:2]. Didampingi rekannya yang masih hijau, Ellie (Jessie Mei Li), Walker menyelami dunia bawah tanah kota yang fiktif namun penuh korupsi[citation:2]. Ia harus berhadapan tidak hanya dengan sindikat triad yang dipimpin oleh “Mother” (Yeo Yann Yann) yang berduka, tetapi juga dengan mantan rekan satu skuad narkotikanya yang korup, Vincent (Timothy Olyphant), yang ternyata memiliki agenda tersembunyi terkait kokain yang hilang[citation:2][citation:6]. Semakin dalam ia menyelidiki, semakin jelas bahwa kasus ini adalah puncak gunung es dari konspirasi yang menjerat seluruh kota[citation:5].
β ANALISIS MENDALAM: DUA SISI MATA PISAU
β KELEBIHAN FILM
- π₯ Bakat Aksi Gareth Evans Masih Tersisa: Beberapa set piece aksi, terutama di babak ketiga, menunjukkan “ledakan energi, kekerasan ekstravaganza, dan kegilaan berlebihan” yang menjadi trademark sutradara The Raid[citation:8]. Adegan pengepungan kabin di akhir film diakui sebagai sorotan[citation:2].
- π Performa Pendukung yang Solid: Yeo Yann Yann memberikan penampilan “dingin membeku” sebagai ibu triad yang mendambakan balas dendam[citation:1]. Michelle Waterson juga disebut “sangat menakutkan” sebagai “The Assassin” tanpa perlu sepatah kata pun[citation:1].
- ποΈ Atmosfer Visual yang Gritty: Sinematografer Matt Flannery berhasil menciptakan “gambaran bawah kota besar yang keras dan indah dalam segala keburukannya”[citation:1].
- π€ΌββοΈ Kehadiran Fisik Tom Hardy: Hardy secara fisik cocok dengan peran dan koreografi pertarungannya digambarkan “mulia dan berlebihan”[citation:5].
β οΈ KEKURANGAN FILM
- π Plot yang Kacau dan Klise: Alur cerita dikritik sebagai “saga kejahatan yang lemas” dan “konvolusi” yang penuh dengan klise polisi korup, politisi busuk, dan persaingan geng[citation:2][citation:8]. Banyak penonton mengaku sering kesulitan memahami apa yang terjadi[citation:1].
- π¬ Koreografi & Visual Aksi yang Mundur: Berlawanan dengan The Raid, aksi Havoc disebut “sangat frenetik” dan “sulit untuk bahkan mengetahui apa yang terjadi”[citation:1]. Banyak adegan yang bergantung pada “speed ramps” (perubahan kecepatan kamera) dan “hidden cuts” (potongan tersembunyi) yang membuatnya terasa seperti CGI[citation:1].
- π₯οΈ Kualitas CGI yang Buruk: Efek visual, terutama untuk adegan lalu lintas dan malam hari, secara luas dikritik tampak seperti “cutscene video game murahan” yang merusak imersi[citation:5][citation:8].
- π£οΈ Dialog & Karakter Tom Hardy yang Bermasalah: Aksen Hardy yang “nyaris tidak dapat dipahami” menyulitkan penonton[citation:1]. Karakternya juga dinilai “tidak menarik” dan “hampa”, hanya terlihat seperti “orang yang kesal” alih-alih detektif yang muram[citation:8].
π TENGAH PENTING: POTENSI ENSEMBLE YANG TAK TERGARAP
Tom Hardy, meski secara fisik meyakinkan, tidak diberikan materi yang cukup dalam untuk dikerjakan. Aksennya yang khas justru menjadi penghalang, dan karakternya, Patrick Walker, kurang mengalami perkembangan yang menarik[citation:1][citation:8]. Sayangnya, beberapa ulasan menyebutkan ia justru menjadi “orang paling tidak menarik di ruangan itu”[citation:8].
Kekuatan sesungguhnya justru berasal dari pemeran pendukung. Timothy Olyphant sebagai Vincent, antagonis utama, mendapat pujian sebagai penampilan yang menonjol[citation:2]. Jessie Mei Li sebagai Ellie dianggap sebagai karakter paling menarik, meski sayangnya “secara harfiah ditugaskan di belakang meja untuk sebagian besar film”[citation:1]. Ensemble yang berisi aktor-aktor hebat seperti Forest Whitaker dan Luis GuzmΓ‘n tidak mendapatkan cukup “daging” untuk peran mereka[citation:1].
π KESIMPULAN & REKOMENDASI
Dengan rating IMDb 5.6 dan konsensus kritik “campuran atau rata-rata”, Havoc adalah contoh nyata film yang menderita karena produksinya yang tertunda dan penuh gejolak selama bertahun-tahun[citation:2][citation:5][citation:8]. Film ini mencoba mencampurkan thriller polisi kotor era 70-an dengan aksi seni bela diri Asia, namun gagal menyatukannya dengan mulus[citation:1].
β οΈ Bisa ditonton jika: Anda adalah penggemar berat gaya aksi visceral Gareth Evans dan Tom Hardy, serta dapat menikmati film yang mengutamakan set piece aksi di atas narasi yang koheren. Cocok untuk tontonan santai tanpa ekspektasi tinggi. β Tidak direkomendasikan jika: Anda mencari cerita kriminal yang cerdas, karakter yang berkembang, atau aksi dengan koreografi jernih dan efek praktis ala The Raid. Film ini adalah bayangan dari karya terdahulu Evans.